Di bawah cuaca yang panas di Monas, sekelompok penjual bermunculan dengan berbagai macam kaos bertuliskan nama Soeharto dan Jokowi. Namun, apa yang menarik adalah tidak ada satupun kaos yang bergambar SBY.
Mengapa Tidak Ada Gambar SBY?
Salah satu pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak banyak orang adalah mengapa tidak ada gambar dari mantan presiden SBY di kaos-kaos tersebut. Apakah ini merupakan sebuah kebetulan atau ada alasan tertentu di baliknya?
Alasan Sejarah
SBY, atau Susilo Bambang Yudhoyono, merupakan mantan presiden Indonesia yang menjabat selama dua periode antara tahun 2004 dan 2014. Selama masa kepemimpinannya, SBY dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan berusaha memperbaiki ekonomi serta stabilitas politik negara.
Namun, seiring berjalannya waktu, popularitas SBY mulai memudar. Beberapa kasus korupsi juga melibatkan beberapa anggota partainya, Partai Demokrat. Hal ini kemudian turut mempengaruhi citra dari mantan presiden tersebut.
Oleh karena itu, mungkin penjual-penjual kaos merasa bahwa tidak banyak peminat atau permintaan akan kaos dengan gambar SBY. Mereka lebih cenderung menghadirkan tokoh-tokoh seperti Soeharto dan Jokowi yang masih populer hingga saat ini.
Popularitas Soeharto dan Jokowi
Terkait dengan popularitas, tidak dapat dipungkiri bahwa Soeharto dan Jokowi masih menjadi tokoh-tokoh yang sering diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia.
Soeharto, dikenal juga sebagai “Bapak Pembangunan” Indonesia, memimpin negara selama lebih dari tiga dekade sejak tahun 1967 hingga 1998. Di masa jabatannya, ia berhasil membawa kemajuan ekonomi yang signifikan dan stabilitas politik ke Indonesia. Meskipun kontroversi mengelilingi kepemimpinannya, banyak orang masih menghormati dan mengingat jasanya dalam memajukan negara ini.
Sementara itu, Jokowi atau Joko Widodo adalah presiden saat ini yang menjabat sejak tahun 2014. Ia dikenal dengan gaya kepemimpinan yang dekat dengan rakyatnya dan berusaha meningkatkan infrastruktur serta perekonomian negara.
Dalam hal popularitas, baik Soeharto maupun Jokowi masih memiliki basis penggemar yang kuat di masyarakat. Hal ini mungkin menjadi salah satu alasan mengapa penjual-penjual kaos memilih untuk menggunakan gambar mereka dalam produk-produk mereka.
Kaos Sebagai Ekspresi Identitas Politik
Penggunaan kaos dengan gambar tokoh politik bukanlah hal baru di Indonesia. Sejak lama, kaos bertuliskan nama dan gambar para politisi digunakan sebagai sarana ekspresi identitas politik seseorang.
Simbol Solidaritas
Dalam situasi politik yang padat peristiwa, kaos dapat menjadi simbol solidaritas bagi sekelompok orang yang memiliki pandangan politik yang serupa. Misalnya, kelompok pendukung Soeharto atau Jokowi dapat menggunakan kaos dengan gambar tokoh-tokoh tersebut untuk menunjukkan dukungan dan kesetiaan mereka.
Kaos juga bisa digunakan untuk memperlihatkan afiliasi politik seseorang. Dengan mengenakan kaos bertuliskan nama dan gambar tokoh tertentu, seorang individu dapat secara terbuka mengekspresikan pilihan politiknya kepada orang lain.
Pengaruh Media Sosial
Perkembangan media sosial juga berdampak pada popularitas penggunaan kaos dengan gambar tokoh politik. Di era digital seperti sekarang ini, foto-foto atau tulisan mengenai politisi sering kali tersebar dengan cepat melalui platform media sosial.
Melihat hal ini, penjual-penjual kaos mungkin merasa bahwa menggunakan gambar Soeharto dan Jokowi di produk mereka akan lebih mudah dikenali oleh masyarakat luas, terutama generasi milenial yang cenderung aktif di dunia maya.
Memasarkan Kaos Politik di Monas
Monas (Monumen Nasional) menjadi salah satu tempat favorit para penjual kaos untuk memasarkan produk-produk mereka. Terletak di pusat Jakarta, Monas adalah simbol nasional Indonesia yang sering dikunjungi oleh wisatawan maupun warga sekitar.
Daya Tarik Turis
Sebagai monumen yang menggambarkan semangat perjuangan kemerdekaan Indonesia, Monas menarik banyak turis yang ingin melihat dan berfoto di sekitarnya. Dalam pengaturan inilah penjual-penjual kaos melihat peluang untuk memperoleh pelanggan potensial.
Mereka menyediakan berbagai macam kaos dengan tulisan dan gambar yang menarik perhatian turis, terutama yang berkaitan dengan tokoh-tokoh politik terkenal seperti Soeharto dan Jokowi.
Pasar Lokal
Bukan hanya para turis, Monas juga menjadi tempat berkumpulnya warga Jakarta serta penduduk sekitarnya. Di sini, mereka dapat menghabiskan waktu bersama keluarga atau teman-teman sambil menelusuri berbagai produk yang ditawarkan oleh penjual di sekitar area Monas.
Kaos politik menjadi salah satu pilihan produk bagi mereka yang ingin mengekspresikan dukungan atau afiliasi politik mereka. Dalam suasana hangat seperti ini, kemungkinannya adalah lebih tinggi bagi penjual-penjual kaos untuk menjual produk mereka kepada pasar lokal.
Kesimpulan
Dalam geliat bisnis kaos di Monas, kita melihat bahwa kaos-kaos bertuliskan nama Soeharto dan Jokowi muncul tanpa adanya gambar dari mantan presiden SBY. Meskipun tidak ada penjelasan resmi, beberapa faktor seperti popularitas, alasan sejarah, serta identitas politik dapat menjadi dasar pemilihan gambar yang digunakan dalam produk-produk tersebut.
Kaos politik dengan gambar tokoh-tokoh ini bukan hanya sekadar pakaian biasa, tetapi juga merupakan alat untuk mengekspresikan solidaritas dan identitas politik seseorang. Fenomena ini menunjukkan bahwa pilihan kaos politik di Monas bukan hanya mengikuti tren, tetapi juga memiliki makna yang mendalam bagi masyarakat yang menggunakannya.
